
“AURA KASIh”
“Memuliakan Sang Maha Karya”.
Oleh: I Ketut Murdana (Selasa, 23 September 2025).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Alam semesta selalu bekerja atas kemaha kuasaan-Nya, untuk melayani seluruh ciptaan-Nya, mencipta, memelihara, mempralina, memusnahkan lalu membebaskan. Kemaha-kuasaan itu “tak berdebat”, tetapi hadir menunjukkan kebenaran-Nya, yang tak bisa ditolak oleh siapapun. Sadar dan berupaya terus memahami, memaknai, kemudian tunduk tak melanggar alur kerja Kuasa-Nya itu, merupakan pengetahuan hidup yang sesungguhnya. Itu artinya pengetahuan hidup selalu menyelaraskan, menyelamatkan untuk mencapai kebahagiaan lahir dan bhatin, mencapai kebebasan abadi.
Menempatkan gerak substansi nan hakiki dalam dua sifat tersebut, yaitu pengetahuan yang “menciptakan” kesejahteraan di dunia material dan ilmu pengetahuan yang “menciptakan” kebahagiaan di dunia rohani. Keduanya menjadi satu kesatuan utuh tak terpisahkan, bergerak mengalir, meresapi dan mengendalikan semua ciptaan-Nya, hingga disebut Maha Karya. Sang Maha Karya memberkati “Ilmu pengetahuan Penciptaan”, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Anugrah pengetahuan mengalir dan berkembang, menjadi narasi panjang penggerak kesadaran itu sendiri. Menggelorakan lalu bergerak menembus misteri semesta raya dengan segala isinya yang telah “disediakan” sebelumnya.
Misteri semesta yang tersembunyi itu perlahan disentuh dan ditembus pengetahuan dan prilaku untuk hidup yang berguna serta menyelamatkan kehidupan. Sadar terhadap hakekat bahwa dunia ini, bukan saja dihuni oleh makhluk kasat mata, tetapi juga makhluk gaib, yang bersama-sama menjaga keseimbangan alam, patut dihormati. Karena keberadaannya juga tercipta, dan berproses menyempurnakan diri. Sadar terhadap sistem kebenaran yang bekerja secara adil itu, merupakan harmoni penyelarasan. Barangkali seperti itulah sistem kerja, yang disebut “keabadian” itu sendiri. Dia berputar bergerak maju, mengendalikan, menyelamatkan, menyempurnakan dan membahagiakan.
Demikian sebaliknya sifat-sifat napsu ketidak abadian atau ketidak kekalan yang menjiwai asura itu. Mereka selalu berjuang melawan kodrat itu untuk “menguasai” dunia. Bukan sadar berproses mengubah sifatnya untuk mencapai “keabadian” itu sendiri. Menyerang regulasi keteraturan harmoni, menjadi disharmoni menghancurkan. Pengaruh besar kekuatan asura ini sedang melanda dunia, memperkosa Ibu Alam Semesta demi kebesaran kekuasaannya. Membesarkan dan menguatkan ego dan kesombongan yang sewenang-wenang.
Walaupun alam semesta diam dalam ketenangannya, tetapi bekerja penuh rahasia membersihkan keangkuhan itu, menciptakan harmoni. Perlawanan yang melewati kodrat itu, menimbulkan “bencana besar”, mengorbankan material, menimbulkan kesedihan dan duka mendalam, menciptakan perubahan besar maupun kecil. Walaupun demikian siapapun tak ada yang mampu melawan kehendak-Nya itu. Hanya teriakan doa histeris, ekspresi rasa takut, yang amat mengerikan itu. Barangkali seperti itulah jawaban dari dosa-dosa insan duniawi yang tak sadar pengampunan-Nya.
Lalu terucap doa-doa untuk mohon perlindungan, tetapi hukum semesta telah berjalan. Sadar pada akibat yang mengerikan itu, sudah semestinya menjadi kewajiban sungguh menjaga penyelarasan diri terhadap alam lingkungan. Mengubah jiwa-jiwa asura, menjadi manusia sejati yang berjiwa dewata nan Ilahi. Sadar pada posisi masing-masing dalam menjalankan kewajiban yang sesungguhnya. Menempatkan diri pada perjuangan memasuki sistem kerja dewata nan Ilahi, yang mempribadi dan perlahan mengkosmos. Mengedukasi diri merealisasikan dan mentransformasi kewajiban yang amat sulit inilah, kewajiban para suci yang amat rahasia, merahasiakan esensi sistem kerjanya. Agar terbebas dari multi persepsi dan prasangka buruk situasi asura-asura itu sendiri. Sadar dan menempatkan prilaku terhadap sistem kerja semesta itulah penyelarasan. Ketika hal itu terjadi, proses pengampunan dan penyempurnaan terjadi dengan sendirinya.
Demikian sebaliknya keluar dari sistem regulasi, dan hakekatnya masing-masing, lalu ingin menguasai menciptakan kemenangan yang mengakibatkan kekacauan dunia. Dharma sebagai energi suci nan vital diabaikan lalu diinjak-injak mengakibatkan dunia semakin kacau. Kemenangan itu mengakibatkan insan-insan duniawi semakin menderita kesengsaraan. Jeritan doa-doa suci akibat ketidak berdayaan, dijawab oleh Sang Pemelihara kehidupan, turun ke dunia membangkitkan kembali kekuatan dharma lalu mempralinanya.
Ilmu pengetahuan alam ini, secara konsepsi teoritik, filosofis nan religius sudah dipelajari dan dipahami secara luas. Melalui edukasi formal dan non formal, lalu tiada henti diperdebatkan untuk menemukan alur kerja, yang menyelamatkan dan mensejahterakan. Selanjutnya yang bisa membahayakan hingga menghancurkan. Semuanya itu menempatkan perjuangan untuk memelihara dan melestarikan untuk membendung kerusakan atas salah guna dan pemanfaatannya. Kesadaran menyambungkan ketidak sadaran atas hubungan organ satu dengan organ lainnya dalam kehidupan ini, merupakan perjuangan memelihara stabilitas kehidupan yang sesungguh tujuan hidup dalam sekolah kehidupan itu sendiri.
Perdebatan berintelektual tinggi, berlandaskan teknologi canggih bahkan super canggih, menghasilkan konsep yang benar, berpenghargaan tinggi, lalu menghasilkan kerusakan yang semakin parah. Sebagian rakyat hanya bisa menonton, hutan dan lingkungannya tergantikan hutan beton, menyajikan aktifitas menyenangkan napsu indriya-indriya. Berkompetisi, menggeser perlahan lalu menyirnakan nilai-nilai kesucian yang bervibrasi suci yang telah terkondisi baik.
Erosi itu bergerak terus, lalu dibenarkan berdalih kesejahteraan rakyat. Mengakibatkan semut-semut pendulang gula berduyun-duyun datang lalu bersarang. Karena sarangnya besar, anggotanya banyak, mereka garang dan bertampang seolah-olah telah memiliki dan menguasai temat gula itu sendiri. Siapapun yang berani menyentuh semut-semut itu, mereka akan bersemangat menyerang. Ketika gulanya habis semut-semut itu menghilang lalu meninggalkan sarang yang merepotkan.
Semua itu mesti disikapi sadar melayani melalui “pengetahuan” yang diturunkan bersama-sama kehadiran-Nya itu. Dimulai oleh pemerintah karena kuasa duniawi ada di situ, didukung oleh rakyat penuh kesadaran dan berprilaku nyata. Bukan hanya sibuk tudang tuding, walaupun tersembunyi menuding singasana yang akan dituju. Setelah bisa duduk, lalu melupakan tudingan yang sesungguhnya yang menjadi tujuan keselamatan yang mensejahterakan dirinya. Berkukuh argumentasi pembenaran, didongkrak oleh suryak siu berbayar. Akibatnya laporannya baik-baik saja, tetapi tak pernah baik dan benar sesuai sesuai konsepsi undang-undangnya dan hukum semesta itu sendiri. Pengampunan bijak nan halus tak dihiraukan, lalu terus saja membabi buta menggunungkan hawa napsu, melewati batas-batasnya. Saat itulah kekuatan Ilahi Semesta hadir mempralina, menciptakan perubahan baru. Berkenaan dengan realitas itu Dia adalah Mahakarya yang menyelamatkan dunia dari keangkuhan. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.









Facebook Comments