September 10, 2026
News

USABA KAMPUH DIGELAR 10 TAHUN SEKALI, REJANG SARI BANJAR ADAT WIRYASARI AMLAPURA TAMPIL NGAYAH

AMLAPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Setelah tidak ada lagi penerus sekehe seni kecak-janger Banjar Wiryasari Amlapura yang populer pada era zaman kerajaan tahu 1937 lalul dan pernah tampil di luar daerah Kota Makasar, Sulawesi Selatan, kembali Banjar Wiryasari Amlapura yang terbentuk sejak hampir seabad lalu tepatnya tanggal 28 Oktober 1928 membentuk sekehe seni Rejang Sari. Rejang Sari binaan langsung Keliang Banjar Wiryasari Amlapura, I Made Arnawa, Senin (6/10/2025) pagi mendapat kesempatan ngayah bertepatan puncak upacara Usaba Kampuh di Pura Puseh Desa Adat Karangasem, Jalan Gajah Mada Amlapura, Kelurahan Karangasem.

Usaba Kampuh dilaksanakan hanya sepuluh tahun sekali di dukung oleh 35 banjar adat se-Desa Adat Karangasem. Rangkaiaan dudonan Usaba Kampuh tahun 2025 ini telah diawali pelaksanaan Matur Piuning sejak tanggal 7 September 2025, di Pura Kahyangan Desa Adat Karangasem, lanjut Batara melasti ke Segara Ujung,  Kelebutan Tauke, dan Batara Memasar ke Pasar Amlapura. Upacara akan berakhir nyineb, Kamis (9/10/25) mendatang.

Para penarinya bercampur dari berbagai kalangan profesi pelajar, guru dan ibu rumah tangga. 8 orang penari janger tersebut yakni Ni Komang Ani Asriya,S.Pd., Ni Kadek Ayu Sarjani,S.Pd., Leevia Nathania Annora, Ni Nyoman vila Ningsih, Kadek Dwi Ayunda Sheira Adista, Ni Luh Alika Nandita Putri, Ni Luh Gayatri Deviana Pertiwi, dan Ni Nyoman Ayyu Pitriani Bakti. Dibawah pelatih Ni Komang Ani Asriya, S.Pd.

Salah satu penari yang penulis hubungi usai menari, Ni Komang Ani Asriya, S. Pd., yang juga pelatih rejang mengatakan, saya pribadi, mengikuti ngayah Rejang Sari di Pura Puseh merupakan pengalaman yang sangat berkesan dan bermakna. Melalui kegiatan ngayah ini, saya dapat menyalurkan rasa bakti dan pengabdian kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sekaligus melestarikan warisan budaya daerah. Suasana yang khidmat dan penuh kebersamaan saat menari menumbuhkan rasa syukur, kedamaian, serta kebanggaan dapat berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan yang luhur ini.

Keliang Banjar Amlapura, I Made Arnawa menjelaskan, Rejang Sari yang penarinya 8 orang wanita adalah tarian sakral yang memiliki tempat istimewa dalam budaya Bali. Tarian ini diciptakan untuk mempromosikan keberkahan dan kesejahteraan, serta menjadi sarana komunikasi spiritual dengan alam semesta. Lanjut Arnawa,  penciptaan Rejang Sari kemungkinan berakar dari tradisi dan budaya Bali yang kaya akan nilai-nilai spiritual dan simbolisme.

Menurut Arnawa yang selalu berkomitmen ngajegang dresta Bali, dirinya akan terus menjaga dan melestarikan Tarian Rejang Sari ini. Dengan upaya tersebut, terdapat harapan bahwa regenerasi akan berlanjut, sehingga generasi muda dapat terus belajar dan menghidupkan tradisi ini, karena Rejang Sari menjadi simbol penting yang mengingatkan kita bahwa nilai-nilai luhur dan keseimbangan batin tetap menjadi fondasi kokoh bagi kehidupan spiritual dan budaya Bali.

Selain sekehe Rejang Sari Banjar Adat Wiryasari Amlapura sejak beberapa tahun lalu telah memiliki sekehe gamelan seni Tambur. Sudah sering tampil ngayah dalam upacara panca yandnya di lingkungan Desa Adat Karangasem. Juga telah memiliki seperangkat alat gamelan gender. @@@ CMN = Penulis, I Komang Pasek Antara.

Facebook Comments

error: Content is protected !!