September 9, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“EKSPRESI SENI BERKEKUATAN ESTETIK DAN BERKESADARAN SPIRITUAL”

Oleh  :  I Ketut Murdana (Kamis:04 Juni 2026).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Seni sejak jaman dahulu kala telah hadir “memberi” kepada insan-insan duniawi. Apa yang telah diberi tiada lain adalah nilai-nilai kehidupan yang diwujudkan di ruang indrawi, yang mengalir dari ruang niskala ruang sunyi yang berisi segalanya. Mengalir menjadi wujud yang terindrawi, dirasakan bersifat mistik, relegius dan estetik. Ragam wujud seperti itu hadir dibelahan bumi manapun. Itu artinya secara cosmologis nilai-nilai hidup kesemestaan bertransformasi melalui wujud-wujud seni, seni rupa maupun wujud seni audio visual lainnya. Semua itu mengekspresikan dinamika kejiwaan yang terkondisi karakter lokalitas unik nan eksotis.  Kemudian menjadi seni budaya yang berkearifan lokal. Karena tumbuh dan berkembang disempurnakan melalui nilai-nilai humanis nan harapan religius yang berkembang pada ragam komunitas itu.

Kondisi realitas kehidupan seni itu terus berubah, berkembang mendewasakan harkat esensial kemanusiaan komunitas itu, lalu perlahan meningkatkan kualitas estetik nan indrawi, meluhurkan isian nilai-nilai humanis nan religius, beretika normatif dan metodologis dalam karya-karya ciptanya. Saat itu nilai-nilai yang bergulat menembus dan menyelaras misteri kesemestaan. Terefleksi menjadi realitas yang terserap, termaknai lalu terkondisi dalam ruang dan waktu mencapai “kemurniannya” serta kegunaan yang terus meluas. Dalam konteks itu seni memerankan diri sebagai media ekspresi dan komunikasi, serta wahana yang berkembang meluas menjadi “keyakinan”, bahwa wujud itulah “DIA” yang diyakini sebagai obyek segala obyek.

“DIA” itu bisa saja keyakinan kepada nenek moyang, “DIA” itu juga bisa juga dipandang sebagai Pelindungi Segalanya (Tuhan). “DIA” bisa pernyataan sikap hidup mewakili harapannya, menjadi ragam tanda. Oleh karena itu “DIA” ditandakan lalu menjadi “bertanda”. Oleh karena “bertanda” karena “ditandakan”, keduanya “terlihat” lebur menjadi satu kesatuan “keyakinan” yang diyakini tunggal antara wujud dan isian nilai-nilai keyakinan. Melalui tanda atau simbol memahami dan memaknai untuk menjacapai “DIA”. Saat itu seni merupakan jalan pengetahuan (Ksetrajna) memasuki ruang transendental.

Dalam kontek itu seni mengakomodasi nilai-nilai simbolik, lalu berubah menjadi “kebenaran” yang diyakini mewadahi kebenaran sejati. Dalam kontek itu seni telah mewadahi wilayah berpikir dan berkeyakinan, yang ada di balik atau di luar wujud itu sendiri. Dalam kontek terindrawi menjadi wujud seni yang disakralkan lalu disucikan dan dimuliakan sebagai obyek puja dan sarana pemujaan. Oleh karena itu, wujud seni yang disakralkan itu dipelihara, dijaga, bahkan diciptakan ulang lagi, apabila telah rapuh dimakan usia.

Dengan demikian seni dikuatkan nilai-nilai isian yang diyakini, hingga diciptakan atau dilahirkan berulang-ulang. Ketika itulah seni bermakna “kehidupan”, yang mengakomodasi pusat konsentrasi, sebagai pembuka pintu kerohanian memasuki nilai-nilai religius spiritual nan universal. Wujud seni yang terindrawi seperti itu mengantarkan seluruh unsur jiwa, perlahan memasuki “ruang sunyi”, kosong, hening dan suci. Sebagai ruang kosmik nan hening sebagai sumber pengetahuan dan energi suci yang terus mengalir. Seni dalam kontek itu merupakan salah satu jalan yang “dialiri”, bagi insan-insan duniawi menjadi jalan Para Widya, mencapai Karma Yoga.

Dalam pemahaman dan pemaknaan personal melalui proses “panjang penyempurna” itu disebut seni mencapai “sundharam”. Sebagai akumulasi penyatuan sifat-sifat kebenaran (satyam) yang disucikan (Shivam), merasakan indahnya kebahagiaan (Sundharam). Pencapaian rasa yang bermakna humanis nan religius ini, tentu melewati tangga-tangga fungsi dan pemaknaan secara hierarkis di ruang material yang memberi kepuasan hidup di dunia material. Menempatkan kesepakatan tukar menukar, jual beli, persembahan, lalu menciptan ruang sosial ekonomi dengan pemberdayaannya masing-masing.

Kemudian menggunakan energi perolehan itu untuk meningkatkan “jalan penyempurna” harkat tujuan hidup (Kama). Ketika itulah seni telah ditempatkan pada posisinya dalam “Karma Kanda” yaitu pengetahuan material yang berorientasi meningkatkan nilai dan makna, mencapai Karma Yoga. Dalam kontek ini seni diangkat dan mengangkat derajat moralitas mencapai penyempurnaan melalui pengetahuan material dan spiritual Keilahian, hingga seni berpancaran agung menyegarkan semangat spiritual.

Dibalik semua itu, persoalan besar yang sedang terjadi yang sedang dihadapi, di jaman Kaliyuga ini, seni dimanfaatkan untuk menguatkan sarana pemuas napsu erotik. Akibatnya lahirlah gaya-gaya seni yang digerakkan untuk merangsang selera napsu sesaat, lalu menghasilkan prilaku yang merongrong memasuki neraka diniawi. Ekspresi seni yang dibingkai “kebebasan” ekspresi dan hak asasi manusia seperti itu, hadir menggelora ditengah-tengah dunia saat ini. Pertanyaannya apakah itu kehancuran martabat kemanusiaannya, di tengah peradaban dunia yang telah berkembang sampai saat ini?. Ataukah kegelisahan insan-insan duniawi kembali kepada kebiasaan prilaku jaman primitif atau sekedar berbeda untuk memperoleh perhatian ditengah-tengah kesibukan pribadi insan-insan dunia saat ini?. Tentu semuanya itu kembali kepada persepsi personal sesuai pandangan masing- masing.

Persoalan besar yang sedang menganga ini, apabila tidak diwaspadai dengan sikap mental dan kecerdasan spiritual yang mumpuni, maka sangat sulit untuk mencapai kebenaran diantara gemuruh persepsi-persepsi “pembenaran-pembenaran”  Saat itu kebenaran sejati dikaburkan oleh pembenaran yang lebih menjanjikan nikmat napsu duniawi. Gelombang besar itu sedang menggelora, “menyadarkan” atau “menenggelamkan”. Saat itulah sesungguhnya semesta menguji kecerdasan insan-insan duniawi untuk memperjuangkan harkat martabat hidupnya. Seni menempatkan ekspresinya di ranah itu, larut atau mengendalikan.

Tetapi wujud seni-seni pulgar nan erotik seperti itu, yang digandrungi lalu terjual mahal terkondisi di ruang yang “disunyikan” karena terjaga ketat. Tetapi selalu ramai  dan sekarang semakin dibuka dan terbuka, tanpa rasa malu. Karena memang urusan “kemaluan”, yang  tak pernah puas dan tak pernah jera sebelum “memalukan”. Sadar perlahan setelah hancur, tetapi amat sulit memulihkan “kehancuran” moral agar  kesadaran prilaku normal kembali.

Ruang dualitas ini terwadahi oleh seni,  menawarkan persoalan nilai-nilai, tentang harkat martabat kemanusiaan dan sebaliknya kehancuran moralitas menjadi penghuni neraka duniawi. Saat itulah seni menjadi sahabat bijak, menyerahkan sajiannya kepada yang Maha Kuasa sebagai penegak keadilan. Sebagai Bhakti persembahan Karma Jnana nan estetik. Kepada masyarakat luas sebagai refleksi aura estetik dan edukatif, pengantar renungan memasuki wilayah esensial nilai-nilai kajiannya. Insan-insan seni yang menempatkan kesadaran tulusnya terhadap kebenaran itu, maka kebenaran yang akan melindungi. Karana itulah wujud Keadilan-Nya. Menjadi insan seni yang berkesadaran spiritual mencapai Karma Yoga yang sesungguhnya. *** CMN. Semoga Menjadi Renungan, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!