September 9, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“KEBAJIKAN DHARMA PENUH TANTANGAN”

Oleh:  I Ketut Murdana (Kemis, 18 Juni 2026).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Kematangan resapan nilai-nilai kebajikan dharma merupakan konstanitas dari perjuangan setiap insan, yang benar-benar melaksanakan. Kebenaran itulah kekuatan sikap dan kualitas keimanan seorang. Proses bukan semata kecerdasan teoritik, ragam pendapat, tetapi prilaku yang berkeyakinan kuat sepanjang ayat. Saat berproses dengan berbagai dinamika itulah nilai-nilai dharma dapat dirasakan. Rasa kebenaran yang “mempribadi” dan yang “bervibrasi” kepada siapapun yang tersentuh. Itu artinya nikmat kebahagiaan meresap ke dalam dan “memberi” rasa damai kepada yang tersentuh tanpa disadari. Saat itu “DIA”-lah Sundharam, konfigurasi Satyam dan Shivam. Merefleksi jiwa Santhi dan welas asih, kemenangan yang mendamaikan.

Dalam berproses selalu berhadapan dengan sifat-sifat Maya memahami Maha Maya. Memahami dan menerobos berbagai keraguan terhadap obyek sasaran, misteri semesta dan kemanusiaan yang luar biasa. Misteri inilah yang disebut memasuki rimba jasmani dan rimba rohani melalui langkah yang “berpengetahuan” atas tuntunan-Nya sebagai Sat dan Sad Guru. Dimensi dinamis itu berhadapan dengan keyakinan, menciptakan semangat dengan sendirinya. Demikian sebaliknya bisa menghilang entah kemana. Itu artinya pupusnya keyakinan yang dikuasai salah satu Maya kemalasan.

Lalu dibenarkan dengan berbagai alasan pembenar. Saat itu pula kekuatan Maya, memasuki Maha Maya pengganggu sekaligus penguji menguatkan atau menghancurkan apabila tak disadari, melalui tuntunan-Nya. Saat itulah sadar terhadap misteri yang membingungkan, maka jawabannya adalah pengetahuan yang mengalir dari Guru. Apabila dibiarkan maka tumpullah energinya, lalu menghilang perlahan, menjadi kegagalan tujuan. Tetapi dengan semangat, keberanian dan belajar mengikhlaskan setiap tahap perjuangan, saat itulah kabut misteri “terbuka” yang disebut rahasia semesta terbuka perlahan dengan sendirinya. Menjadi kekuatan yang berenergi suci (transendental).

Saat itulah koneksitas energi subyek dengan obyek terhubung kasih suci yang membahagiakan. Keterbukaan rahasia itu menyegarkan hati nurani dan pikiran dengan segala aspeknya terjawab hingga semakin terang benderang. Barangkali seperti itulah tahapan terwujudnya sinar suci yang menerangi kegelapan jiwa-jiwa insan-insan duniawi. Maka wujudnya disimbolkan sebagai aksara suci. Pengalaman rasa seperti ini membuktikan kebenaran sloka-sloka dari kitab-kitab suci. Akibatnya keyakinan dan prilaku kebajikan dharma semakin menguat.

Semakin menguatnya jiwa-jiwa insan-insan duniawi, sadar dan terus menyadari kebenaran itu, maka niat buruk akan sirna dan berubah perlahan menjadi prilaku kebajikan yang semakin membaik, benar dan bijaksana. Itu artinya jiwa-jiwa yang sudah tersadarkan oleh cahaya Ilahi, yang disebut memperoleh “pencerahan”. Siapa yang mencerahkan, tiada lain adalah sinar suci-Nya yang memancar, itu artinya “DIA” yang menyinari. Menyinari dengan kecemerlangan itulah kegelapan semakin sirna hingga jiwa semakin terang benerang membahagiakan.

Realitas itu terjadi karena insan-insan duniawi siap mewadahi, lalu teguh kukuh berprilaku berkesadaran rohani. Artinya bergerak terus memperjuangkan nilai-nilai kebajikan dharma, mengisi diri, dan mampu mengabdikan diri “pada saatnya”. Menjadi kewajiban hidup yang bermisi suci. Menjadi “Bhakti dalam pengabdian”. Demikianlah keteladanan para suci dari jaman ke jaman, yang lahir dari karma jnana. Bukan sekedar “dijadikan” oleh ritual saja. Lalu terjebak hitung-hitungan di dunia material nan suntuk komersial. Bukan sekedar berdoa untuk kepentingan material sesaat saja, tetapi mengisi jiwa untuk memahami, memaknai dan merefleksikan kebajikan dharma dalam kehidupan yang lebih luas.

Walaupun tak mudah mencapai kebenaran itu, melangkah sedikit demi sedikit melalui keyakinan pada energi dan  kuasa pengetahuan-Nya yang mengalir, meresapi memaknai menjadi semangat bergelora, ringan prilaku. Saat itulah kecerdasan berpikir logika dan kecerdasan rohani bergulat saling menundukkan. Ketika pikiran logika material menguasai maka keraguan yang terus meragukan menguasai, hingga perjuangan semakin berat lalu lari dari perjuangan.

Apabila kesadaran rohani menang menundukkan pikiran, maka beban psikologis berubah menjadi energi semangat rohani yang menggebu-gebu. Karena jalan menuju kebenaran sejati semakin terbuka lebar. Saat itulah rasa kebahagiaan dirasakan semakin mendalam, menghadirkan reaksi jiwa yang tenang meneduhkan. Saat itulah vibrasi suci menyentuh insan-insan yang memerlukan dengan berbagai persoalannya diteduhkan oleh kasihnya. Insan-insan duniawi itu memaknai bahwa kedatangannya sebagai panggilan jiwanya.

Saat itulah aksi dan reaksi menjadi kesatuan dalam berproses, yang disebut edukasi spiritual. Seorang murid dekat dengan gurunya, dalam dunia spiritual disebut upanisad. Menjauhnya sistem pendidikan sekarang sesuai prinsip-upanisad, tentu banyak menimbulkan problem sosial yang bermuara etika dan sopan santun antara murid dengan guru. Ruang komunikasi langsung nan humanis tergantikan dengan perangkat teknologi, yang dibatasi oleh disiplin waktu yang berbasis material. Menghasilkan kecerdasan intelektual, tetapi banyak yang stress, hingga menghancurkan tatanan sosial.

Saat edukasi terjadi, seorang murid memperoleh pengetahuan dan vibrasi suci gurunya. Dan guru memperoleh pengetahuan memahami ragam karakter muridnya lalu menghasilkan metodologi pembinaan untuk membangun karakteristik alamiah murid-muridnya. Tantangan terbesar di dua ranah, diantara dunia manual dengan dunia teknologi memerlukan penyelarasan konstruktif, membebaskan insan-insan duniawi dari robotisasi teknologi canggih. Menjadi insan-insan cerdas berpengetahuan material dan spiritual bahagia dan damai. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!