
“AURA KASIH”
“SANG MAHA KARYA BEKERJA DI RUANG SUNYI”
Oleh: I Ketut Murdana (Rebo, 23 September 2026).
MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Tak mudah mengenal dan memahami sistem kerja Sang Maha Karya di ruang sunyi. Demikian pula transformasi energi esensial nan suci, tersembunyi “meresapi jiwa-jiwa yang dikehendaki dan dijadikan-Nya” (Sidhi Gamaya). Dalam dunia spiritual disebut jiwa-jiwa yang terpanggil, sadar kembali ke jalan kebenaran dharma. Artinya bangkitnya jiwa-jiwa yang sadar dan berkesadaran Ilahi, bersama-sama mengabdi untuk menegakkan dharma. Bukan hanya indah terdengar tetapi benar-benar menjadi prilaku yang sungguh-sungguh berkeyakinan kepada-Nya. Menghormati dan menyayangi seluruh ciptaan-Nya dalam ruang dan kemampuan terbatas di bumi. Disitu pula tempat insan-insan kebingungan mengadu, untuk memperoleh dan menemukan jalan keluar terbaik yang membahagiakan. Disitu pula pembodohan dan tipuan-tipuan dogmatisasi Asura Maya, bertopeng “Kebajikan”, seringkali terjadi, bahkan terus terjadi dalam berbagai wujud aksinya. Demikianlah kehidupan yang sesungguhnya, yang patut dipahami. Memaknai realitas yang meragukan dan seringkali membingungkan, sehingga insan-insan terjebak di dalamnya. Melepaskan keadaan itulah “belajar” yang disebut menguatkan keyakinan terhadap kebenaran dan itulah jalannya. Jalan itulah tuntunan pengetahuan yang mengalir dan terus mengalir sepanjang sejarah kehidupan. Masih banyak yang belum menyadari kebenaran itu, karena lebih banyak yang suntuk menikmati nikmatnya. Amat penting merenungi proses kebenaran itu, agar perlahan terkondisi redam sunyi hening dalam diri. Lalu bangkit semakin kuat bergelora menembus misteri, kekuatan Maya, yang amat dahsyat mengelabui kebenaran sejati itu sendiri.
Menghadapi realitas tersembunyi itulah belajar “pengetahuan kejiwaan” yang berkembang dalam diri setiap insan. Berjuang mengenal diri, yang sesungguhnya. Barangkali itulah semangat memperjuangkan harkat terbesar di jaman Kaliyuga ini. Karena gelombang kegelapan yang mesti dihadapi amatlah besar. Atas dasar realitas itu menguatkan setiap bentuk kewajiban kerja jasmani dan rohani. Cerdas memaknai masalah, memasrahkan hasilnya guna mencapai “penyatuan kerja”, yang juga disebut pencerahan diri sendiri. Melepaskan dan mengubah selaput maya kegelapan agar menjadikan “kebenaran”, semakin terang benderang dalam diri sendiri. Ketika kebenaran itu belum tumbuh, permainannya sebatas cerdas teks, unggul debat. Tetapi amat mudah tergoda gangguan ilusi Maya napsu material dan napsu biologis lainnya. Akibatnya lahirlah insan-insan berpangkat tinggi, gugur diterjang korupsi besar-besaran yang menghancurkan. Gugur diterjang napsu biologis salah sasaran. Gugur diterjang napsu dengki dan irihati dan tak tahu malu dan lain sebagainya. Seperti itulah wujud kecerdasan yang dikuasai sifat-sifat asura yang sedang menguasai dunia saat ini.
Dibalik kesadaran itu, insan-insan duniawi banyak yang dibutakan oleh ragam kemabukkan yang bergerak tersembunyi di dalam diri yang dibesarkan oleh ketidak sadaran. Lalu berkembang menjadi kekuatan sosial, menguasai kekuatan politik, sosial dan ekonomi yang semakin membesar. Hingga tak sadar terjebak ketidak kekalan di dunia material. Memaknai semua itu, Rsi Walmiki menggambarkan kisah kebutaan Raja Rahwana, yang cerdas, kuat menjadi pemuja Dewa Shiva terbaik. Lalu ingin membawa dan menempatkan Lingga Yoni di Kerajaannya. Itu artinya Rahwana menginginkan kesejahteraan dan kedamaian hanya untuk kerajaannya saja. Ganesha yang cerdas tentu tak membiarkan niat monopoli itu terjadi. Lalu berjuang hingga mampu menggagalkan niat Rahwana, hingga Lingga Yoni tertanam di bumi kembali, untuk kesejahteraan seluruh umat manusia. Oleh karena itulah Ganesha merupakan simbol seorang putra memiliki kecerdasan yang berpengetahuan suci, menciptakan kemenangan yang mendamaikan.
Akibat keangkuhan yang terus dipelihara Rahwana, menjadikannya tak mampu melihat keberadaan Sri Rama, yang akan mengakhiri kekuasaan dan hidupnya di bumi. Ditengah-tengah kecerdasannya memahami kehidupan memandang keabadian itu sendiri, melalui kecerdasan pribadinya sendiri. Lalu niat cerdas itu diperjuangkan melalui tapa dan desiplin yang ketat. Membuat Dewa Brahma mesti hadir memberkati tapanya. Sebagai jawaban dari hukum Karma, akhirnya Dewa Brahma memberkati permohonan Rahwana. Agar tidak bisa dikalahkan oleh Dewa, Raksasa dan manusia. Berkat itu menyebabkannya menjadi angkuh sewenang-wenang. Menurut pamahaman dari berkat itu, tak ada yang bisa mengalahkannya. Sesungguhnya kecerdasan itu telah membutakan rohaninya, hingga kegelapan menguasai semakin gelap. Rahwana tak mampu membayangkan kehendak yang Maha Kuasa, yang serba maha, “apapun dikehendaki terjadi”, terutama menegakkan keadilan di bumi. Semua sifat yang melekat dalam jiwa ciptaan-Nya diberkati untuk berkembang sesuai garis-garis batas kedewasaannya sendiri.
Saat itu Rahwana memperjuangkan keinginannya ingin mengatur Sang Maha Pengatur. Mencerdasi Sang Maha Cerdas secara tersembunyi. Tetapi Sang Maha Sunyi maha mengetahui niat tersembunyi di dalam hatinya. Keyakinan atas berkat itu, membuatnya sulit merasakan kehancuran yang segera datang. Karena apa yang “dipikirkan” Rahwana, seperti itulah “keberadaan dunia” dan Kuasa Ilahi. Seperti itulah gambaran kebenaran asura yang terbatas, tetapi cerdas berjuang untuk mencapai keabadian dengan menentang kebenaran. Disitulah kekuatan Ilahi, “Yang Serba Maha”, bekerja amat rahasia, mempralina, amat halus dan bijaksana. Dalam wujud Sri Rama, sebagai Awatara Dewa Wisnu Sang Pemelihara kehidupan alam semesta raya. Mempralina melalui jawaban logis nan Ilahi mengatasi segalanya, untuk menegakkan Dharma di bumi.
Demikian pula restu kuasa Ilahi yang meresapi seorang pemimpin yang berkerja lebih banyak untuk kesejahteraan rakyat, selalu dihina, dibuli, dicaci maki terus-terusan, ingin dihancurkan jasmani maupun martabat rohaninya. Seperti itu kekuatan asura yang amat besar pengaruhnya di jaman Kaliyuga. Semuanya ingin menghancurkan sifat Dewata tersembunyi dalam diri setiap orang, dalam takaran kualitas yang berbeda-beda.
Kobaran rasa dengki irihati, “bertopeng kebenaran”, beraneka ragam wajah, ingin berebut kekuasaan dan terus berkuasa. Api napsu amarah, tak tahu malu mengatasnamakan rakyat, menghancurkan peradaban etika dan sopan santun ditengah-tengah negara yang konon religius. Bertopeng agama, yang sesungguhnya meninggikan martabat kemanusiaannya, justru membiadabkan peradabannya sendiri. Walaupun partainya berbasis keagamaan, tetapi tak menyentuh dan meneduhkan masyarakat, karena dikendalikan oleh Raja yang berjiwa Sangkhuni. Melewati batas etika kesopan oknum-oknum gelandangan politik tak laku dan tak tahu malu. Melupakan perubahan dan alur kuasa regenerasi yang mengalir setiap masa. Kelupaan mawas diri dan mengoreksi diri, menciptakan kebutaan rohani yang semakin kelam. Itu artinya kekuatan asura yang telah menerobos menguasai jiwa insan-insan munafik. Disajikan ke permukaan oleh “kekuatan Ilahi tersembunyi” menjadi “kebanggaan, yang menghancurkan” martabat kemanusiaannya perlahan-lahan.
Saat itulah kekuatan Ilahi “bekerja halus di ruang kejahatan” mempralina penuh bijaksana, amat sulit dipahami. Demikian pula sebaliknya menjadikan insan-insan menyadari kebenaran itu dan mengabdi untuk dharma itu sendiri. Demikianlah Sri Krishna menjadikan Arjuna sebagai murid dan sebagai sahabat untuk menegakkan dharma di bumi. Berbeda dengan Rahwana, ketika diambang akhir kekuatannya barulah Rahwana menyadari kebenaran Ilahi dan menyerah kepada-Nya. Karena sesuai permohonannya di masa lalu Rahwana hadir sebagai penentang kebijakan dharma, untuk “memperoleh berkat pembebasan” agar tugas Sri Rama menegakkan Dharma lebih cemerlang di bumi.
Sesungguh dibalik semua itu memberi “edukasi penyadaran” langsung, kepada insan-insan yang sadar menyaksikan realitas psikologis itu. Kebenaran Ilahi ini “hadir di dalam kejahatan”, bekerja halus menembus tanpa batas mempralina. Semua itu bergerak mempralina kegelapan, yang disebut sebagai “akhir jaman”, menuju babak baru yang Santhi dan Welas Asih. Walaupun patut disadari bahwa semua itu sedang berproses, dalam jiwa insan-insan, di ranah sosial dan lingkungan alam semesta raya. Semua itu bisa hadir melalui doa-doa suci nan tulus insan-insan penghamba kedamaian, dan yang siap serta tulus ikhlas bekerja mengabdi dharma di ruang sunyi.
Demikianlah Rsi Wasistha memohon kepada Raja Dasaratha agar Sri Rama yang dipandang masih belia, belum cukup usia oleh Raja, untuk mengalahkan kekuatan asura di hutan Nandhaka, untuk membebaskan pertapaannya dari serangan para asura itu. Walaupun dengan berat hati, Raja Dasaratha tetap menyerahkan Sri Rama kepada Rsi Wiswamitra untuk melaksanakan tugas kewajibannya. Seperti itulah dharma manusia di bumi mesti berjalan atas tuntunan dan perlindungan “Sad Guru” yang menjadikan. Kerja yang amat rahasia inilah yang mesti ditembus oleh keyakinan yang teguh. Hanya jiwa-jiwa yang “dijadikan” terpilih untuk itu, karena di dalamnya ada rahasia Ilahi yang tersembunyi. Merupakan hubungan suci yang amat rahasia, tetapi bisa dirasakan lewat vibrasinya. Karena kecerdasan dan kesucian pengetahuan, serta kekuatan hukum duniawi tak mampu lagi mengingatkan dan menasehatinya. Akibatnya Dharma dan keadilan serta kesucian terinjak-injak. Lalu ditebus ritual formalitas, los tindakan dan proteksi yang benar dan suci. Tetapi membenarkan tindakan napsu yang terus melanggar hukum semesta.
Kebenaran Ilahi, yang bekerja di ruang sunyi tak terindrawi itu, seolah-olah tak ada dan tak bekerja sebagaimana mestinya. Walaupun telah menikmati energi kehidupan atas kuasa kasih, penciptaan, pemeliharaan dan pralina-Nya. Memahami sistem kerja yang amat rahasia itu, semua insan diberkati tuntunan agar memahami untuk memperoleh dan merasakan serta bisa bersyukur atas perolehan luar biasa itu. Dibalik semua itu masih banyak insan-insan yang mengabaikan kebenaran itu, hingga tak sempat merenungi dan meresapi kebenaran itu. Walaupun telah diajarkan lewat tulisan maupun tutur terus menerus melalui edukasi teknologi canggih. Menjadi tutur tinular yang mengalir vertikal dan horosontal hingga meresapinya. Artinya tuntunan mengalir dari kuasa-Nya lewat orang-orang yang dikehendaki atau yang hendak mengabdikan dirinya dengan sebaik-baiknya hingga mencapai tahapan ketulus ikhlasannya masing-masing, yang disebut kerja mencapai “penyatuan” (yoga). Merasakan penyatuan sejejap di ruang sunyi.
Gelombang besar yang amat rahasia tak terbatas ini, amat sulit dijangkau, tetapi pasti bisa dijangkau. Walaupun dapat dianalisa sedemikian rupa oleh para suci, filosuf, ilmuwan dan juga seniman. Walaupun demikian masih tertanam rahasia yang tak mudah dipahami. Oleh karena itu Kosmologis ketimuran menempatkan kuasa Tuhan meresap hadir di dalamnya di atas segalanya, meresap penuh rahasia. Para suci menggambarkan pengalaman spiritualnya, lalu menarasikan purana, Itihasa serta tutur melalui upanisad-upanisad mengalirkan pengetahuan yang amat rahasia menjadi kecerdasan jasmani mampu bekerja baik dan benar di ruang material memenuhi kesejahteraan jasmani. Dan bekerja di ruang rohani sadar proses memaknai kehidupan di bumi ini, mencapai kebahagiaan rohani. Kedua prilaku kesadaran itu, selalu berhadapan dengan ruang realitas dan non realitas. Oleh karena itu kesadaran yang berkesadaran menjadi prilaku yang berkeyakinan kuat atas pengabdian kepada-Nya, itulah wujud ketajaman rohani mengantarkan kekuatan jasmani bersatu padu menembus rahasia yang disebut misteri kehidupan itu.
Ketika capaian kebenaran itu dirasakan dengan baik menjadi pengalaman spiritual dan pengalaman estetik atau pengalaman keindahan, lalu bersatu-padu dijiwai oleh pengalaman spiritual merefleksikan pengetahuan suci kebenaran yang sesungguhnya. Konstruksi pengalaman estetik yang demikian terus menerus mewujudkan keindahan seni budaya yang membahagiakan. Amat mudah berinteraksi dan berkomunikasi lintas budaya, menjadi pergaulan dunia yang toleransi, saling menghormati dan saling menghargai. Bukan mentok pada kebenaran spiritual teks, yang tak paham berprilaku menghina ciptaan-Nya, karena tak berupaya mengenal dan meresapi nilai-nilai kosmologis yang bermakna dan kegunaanya. Karena setiap yang tercipta di bumi pasti ada gunanya, pengetahuan untuk menemukan kegunaan itulah edukasi panjang pendewasaan intelektual yang beriman, lalu saatnya paham tentang kebenaran yang sejati. Bukan menurut-menurut lalu “lupa” akibat dogmatisasi pembodohan berlanjut. Akibatnya menimbulkan sikap intoleran disvalue yang meresahkan dan antipati yang tak terhindarkan.
Kebenaran pengetahuan yang membahagiakan itu, sesungguhnya realistis bagi insan-insan yang mengalami, dan rahasia bagi yang tidak atau belum mengalami. Saat itu pula kebenaran menjadi nyata dan rahasia. Proses edukasi spiritual nan kosmologis selalu menempatkan perannya menyadarkan kebenaran itu. Oleh karena itu pengetahuan teks adalah refleksi terstruktur dari pengalaman, lalu dijadikan awal edukasi untuk bergerak menembus misteri kerahasiaan semesta melalui keunggulan sikap pribadi, yang berani dan berkeyakinan kuat.
Melalui tokoh Rahwana yang dikisahkan kekuatannya menguasai tiga dunia atas berkat Dewa Brahma dan Dewa Shiva. Anugrah kekuatan itu tak digunakan untuk kesejahteraan seluruh rakyat. Justru sewenang-wenang kepada seluruh rakyat mengingatkan kepada insan-insan duniawi terutama bagi insan-insan yang lemah dan sakit kesadarannya. Menjadi penjajahan atas bangsa sendiri. Mengakibatkan gelapnya jaman. Berjuang menembus gelapnya jaman melalui perbuatan baik, benar dan suci, merupakan kewajiban bersama. Sadar yang berkesadaran terhadap kebenaran itu adalah energi penggerak yang terkondisi mewadahinya. Merujuk kebenaran sejati nan kosmologis. *** CMN. Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi.









Facebook Comments