November 2, 2026
Seni dan Budaya

“AURA KASIH”

“Waspadai Musim Panas Agar Tak Panas”

Oleh:  I Ketut Murdana (Selasa, 13 Oktober 2026).

MANGUPURA (CAHAYAMASNEWS.COM)=Panasnya cuaca membuat tumbuhan rimba raya berubah warna. Hijau segar berubah menguning, lalu kecoklatan mengering, bersuara “kreeseeek” ketika bersentuhan dengan dedaunan kering lainnya, rentan kebakaran. Warna-warni bebungaan cepat layu, keriput lalu perlahan mengering jatuh menyentuh Ibu Pertiwi. Bisa saja tersangkut dimana-mana, akibat terpaan angin, lalu jatuh menyentuh Ibu Pertiwi, ibunya sendiri. Lalu diproses menjadi energi “baru” oleh hukum-Nya sendiri. Dahan keringpun jatuh bergantian, menindih dan menimpa apa saja yang berada di bawahnya. Ada yang membahayakan adapula biasa-biasa saja, karena ringan tak membahayakan. Adapula  hembusan angin besar, menerbangkan dedaunan, bahkan rumah maupun gedung besarpun bisa tumbang. Jembatan putus diterjang air, dan seterusnya.

Demikianlah Sang Maha Karya bekerja, melalui energi yang terindrawi dan yang tak terindrawi. Oleh karena itu “Dia ada tetapi tak ada”, Dia bekerja tetapi terlihat tak bekerja”. Dia bekerja Menciptakan, Memelihara dan seterusnya Mempralina, menjadi sistem kehidupan yang terus berlanjut. Melalui efek Kerja Sang Maha Karya ini melahirkan substansi-substansi terbatas. “Memasuki ruang terbatas dan terjangkau” menjadi proses personal dalam komunitas masing-masing. Saat itu Sang Maha Karya mengkondisikan proses melalui Kuasa-Nya. Refleksi dari semua itu semua insan duniawi dapat merasakan kebenaran itu. Ketika cuaca panas disertai angin kencang menimbulkan gesekan ranting dahan dan ranting-ranting pohon lainnya, sangat mudah memicu kebakaran hutan. Saat itu Pralina terjadi, lalu saat hujan gunung-gunung menghijau, pepohonan tumbuh subur kembali. Realitas ini terjadi dan terus terjadi, karena memang itu wujud rtham-Nya.

Dalam substansi khusus, sedikit gesekan emosional insan-insan duniawi yang seringkali memanas, sangat mudah membakar situasi hingga menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan. Suasana panas dan memanas, memunculkan didihan panas minyak ambisius insan-insan duniawi, dalam upaya memperjuangkan ragam kepentingannya. Lalu dibiarkan tak terkendali kesadaran, “yang penting dapat”. Akibatnya amat mudah menyulut dan membakar situasi. Banyak yang “konon” para elit, intelektual, tokoh partai, tokoh agama, hukum dan lain-lain, bertindak membutakan diri, sengaja mencari-cari kelemahan, kesalahan, membodohi masyarakat.

Terus menerus menciptakan ketegangan sosial, lalu setelah hancur dibiarkan menganga semakin lebar, lalu ditunggangi janji-janji muluk. Akibatnya memerlukan waktu lama menyembuhkan dan “sadar untuk menyembuhkan”. Tak seperti kebakaran hutan, setahun sudah menghijau kembali, tetapi pohon-pohon besar membutuhkan waktu lama untuk hidup. Demikian pula konflik besar membutuhkan waktu lama menyelaraskan kembali. Adapula yang menguatkan konflik dengan sumpah-sumpah hingga amat sulit menyelaraskan kembali. Saat seperti itulah membebaskan sumpah, demi keselarasan hidup damai, merupakan kemuliaan hidup. Memerlukan perjuangan untuk menundukkan ego personal demi keselaran yang lebih besar. Ketika itulah sifat dharma hadir menyelamatkan, dari belengguan gelap kuasa asura.

Saat pengkondisian situasi itulah peran pelaku konflik diantara dua sisi, mesti sadar bahwa memelihara konflik adalah penderitaan panjang, tertunduk kuasa asura yang dianggap benar. Gambaran kisah Raja Drestharata, ketika semua putra-putranya gugur dalam perang, menyimpan dendam kepada Bima. Saat Yudhistira menghadap Raja Drestharata bersama Pandawa lainnya, karena perang telah selesai, untuk mohon restu melanjutkan pemerintahan Asthina Pura. Kemudian Yudhistira bersujud di kaki raja dipeluk hangat penuh kasih oleh raja. Saat Bima mau bersujud ditahan oleh Sri Krishna lalu mengganti dengan patung Bima, yang digunakan latihan oleh Duryodhana saat untuk menghadapi Bima dalam perang tanding bersenjata Gada. Saat giliran Bima tiba patung pengganti itu dipeluk dengan penuh emosi ingin membunuh Bima. Patung itu hancur oleh kekuatan dahyatnya, lalu Drestharata menangis karena merasa bersalah telah membunuh Bima. Lalu Sri Krishna mendekat, dan menyampaikan bahwa Bima masih hidup dan yang hancur adalah patung besi itu. Lalu Sri Krishna berpesan redakanlah emosimu Raja, biarkanlah yang terjadi harus terjadi. Karena engkau membiarkan perang itu terjadi. Pesan moral itu mengingatkan bahwa raja yang membiarkan ketidak adilalan berkembang semakin luas, mengakibatkan perang saudara terjadi. Akibatnya anak-anak bangsa menjadi korban. Bibit kehancuran yang datang dari dalam diri, apabila tak bisa diwaspadai dan terkendali ketat dalam kewaspadaan tinggi, maka kehancuran adalah jawabannya.

Seringkali asura pencipta konflik setelah tujuannya tercapai, membiarkan begitu saja situasi, tak peduli lagi apa yang terjadi. Mengakibatkan penderitaan masyarakat yang berkonflik, selalu takut dan kikuk saat bertemu, bahkan bisa terkondisi sikap dengki  dan sentimentil . Penegak hukum saat itu mesti “sadar” mengkondisikan keadilan, bukan selalu berpihak kepada kepentingan tertentu yang menyesatkan. Oknum koruptor besar, bebas aturan tak disasar, dipenjara diberi rumah besar, amyar, karena dibayar. Akibatnya rakyat menuding pemimpin semakin barbar dan liar, gelap tak bersinar. Merasa keluar dari mulut singa masuk ke mulut buaya.

Dinamika ini seringkali dimainkan oleh penunggang-penunggang untuk kepentingan tertentu, naik ke permukaan mencari popularitas diri. Entah ada prestasi atau tidak yang penting dikenal. Tipuan “kenal” menjadi “terkenal” inilah sedang melanda politik kemenangan suara. Suaranya menang, rakyatnya berlinang air mata, karena tertipu memenangkan penjajah. Kemudian menjadi kerenggangan dan dasar konflik yang berlanjut. Sisa-sisa masalah inilah ruang dinamika politik asura yang terus berulang-ulang.

Ditengah-tengah suasana itulah keberadaan hidup insan-insan duniawi sedang bergelut saat ini. Ditunjang tumbuh berkembang dan pengukukuhan  keangkuhan ego mayoritas, merasa paling benar, menciptakan sikap intoleransi yang terpelihara dan dilindungi oleh keberpihakan penegakan hukum. Menjadi krisis kepercayaan yang semakin krisis. Lalu menjadi aksi protes dimana-mana. Semuanya membutuhkan penyelesaian yang sungguh-sungguh adil, ketika sadar bahwa tujuan berbangsa dan bernegara adalah adil dan makmur. Kearah itulah semuanya harus tertuju, bukan membiarkan bahkan melindungi pejabat-pejabat korup, lalu yang menuding “tersungkur” karena tak mau “akur” kemudian disungkurkan, tak diatur presedur.

Ketika keangkuhan intoleran masuk keranah hukum, penyelesaiannya cukup minta maaf. Tetapi apabila oknum minoritas sedikit keseleo lidah, berjuta-juta insan turun bergerak mengintervensi lalu berpindah tempat tinggal  berjeruji besi. Keangkuhan besar asura itu, mengakibatkan berkembang terus dan merasa benar. Seperti itulah sikap asura yang konon “religius” yang terus menjalar. Teriakan kebenaran di mulut berbuih, belum bisa mengubah sikap yang kurang baik, menjadi lebih humanis. Bersuara identitas religius yang konon berpengetahuan humanis. Benar ketika dibaca, tak pernah mendamaikan ketika berhubungan di ruang kerja, berbangsa dan bernegara. Akibatnya senang berebut, menciptakan kabut, tak takut saling sikut, lahir jadi tukang catut. Praktek-praktek egoistik yang merasa benar menistakan orang lain dianggap sebagai keunggulan.

Menyimak dan menyikapi persoalan besar, sebagai upaya mulat sarira kontrol kewaspadaan diri sangat penting. Merupakan “keharusan” bagi setiap insan duniawi, ditengah gonjang ganjing situasi, menanjak dan sekaligus robohnya puing-puing egoistik sifat-sifat asura meresahkan. Bagaikan musim panas yang menghangatkan dan bisa membakar apa saja. Berdampak sosial perebutan kekuasaan yang semakin memanas, yang patut diwaspadai penyejukan jiwa yang cukup. Semua itu mencirikan akhir jaman, yang amat sulit dirasakan. Agar selamat, sejahtera dan damai menjalankan kehidupan ini. Membangun kesadaran diri, bervibrasi baik dan saatnya bisa memberi kepada negeri mengisi kemerdekaan. *** Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi, Rahayu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!