
RENUNGAN, “Brata Semesta VI”, (Manusia di Zaman Kaliyuga Jauh Tenggelam dalam Kegelapan Duniawi)
Nasehat semesta di balik covid 19, patut kita sadari, karena manusia di zaman Kaliyuga ini telah jauh tenggelam dalam kegelapan duniawi. Semua bentuk anugrah kecerdasan, kepintaran untuk mengeruk energi alam bahkan memperkosanya, justru hanya dimaknai untuk menguasai orang lain agar selalu ketergantungan kepadanya. Dengan demikian manusia dijadikan kerbau yang dicocok hidungnya. Konstruksi-konstruksi wacana ilmu pengetahuan ilmiah, dipromosi besar-besaran seolah melebihi apa yang secara natural telah memberi kehidupan yang sehat sepanjang zaman. Itu artinya ingin memutus mata rantai keilahian, hubungan kasih antara manusia dengan Tuhan dan alam semesta, yang telah memberi hidup dan kehidupan sejak para nenek moyang leluhur di masa lalu.
Kekuatan kapitalis yang telah merubah angan-angan manusia berjati diri ke lautan dunia larut material. Hingga bekerja sekuat tenaga untuk memasuki dinamika ruang material dengan berbagai jebakan prangkat tawarannya. “Sinar bulan jauh lebih panas dari sinar matahari”, begitulah cloteh masyarakat yang setiap bulan harus bayar cicilan. Sebagian besar orang di jmn Kaliyuga ini tidak ada yang bebas dari ikatan material duniawi ini. Karena semua aktivitas ditentukan oleh kuasa material, mencari kerja butuh duit, menjadi pejabat butuh duit, oleh karena itu ruang penyimpangan terbuka lebar.
Lingkaran gelap benang kusut ini semakin kelam, dan hanya sebagian kecil saja manusia, yang menyadari hakekat dirinya yang berbenah, berbuat baik, melakukan swadharma demi negeri. Walaupun sudah diberi gaji besar, rumah dinas, mobil mewah, masih saja juga korupsi, bahkan terjebak obat-obatan terlarang dan kerjanya nyinyir-nyinyir saja. Tadinya nyaman menduduki kursi dewa (dewan), bisa berubah cepat ke kursi neraka. Dalam konteks inilah kendali diri sudah los bahkan Out kontrol.
Ada ajaran brata, hanya dibicarakan di TV, lalu pulang meditasi dalam ruang judi, maupun ruang dugem. Anak-anak muda dimanjakan dengan “budaya asing”, yang bernuansa erotic, tetapi di sisi yang lain berkedok ajeg-ajeg dan lain sebagainya. Kekelaman inilah mesti diangkat dan dibangkitkan dengan energi suci, mewujudkan budaya humanis berkarakter Nusantara. Disinilah “Brata” dan “Yadnya” berpengetahuan suci, menginspirasi menumbuhkahkan karakter cerdas spiritual yang komfetitif, mengendalikan segala bentuk kebohongan dan kemunafikan.
Nilai-nilai dan nasehat tersembunyi inilah tampaknya terjadi di balik Covid 19, sebagai akibat kesalahan dan dosa-dosa kita dan sebagai penyadar agar kita kembali tunduk pada kasih-Nya, melalui hukum semesta yang digariskan-Nya. Semoga menjadi renungan dan refleksi. *** Cahayamasnews.com. Sri Guru Hasta Dhala (Pendiri & Pemilik Ashram Vrata Wijaya, Denpasar).









Facebook Comments