November 28, 2021
Adat dan Tradisi

Jaga Keharmonisan Alam Sekala-Niskala, Desa Adat Kerobokan Gelar Karya Ngenteg Linggih di Pura Petitenget

BADUNG (CAHAYAMAS). Guna menjaga keharonisan alam sekala dan niskala Desa Adat Kerobokan melaksanakan upacara Mamungkah. Ngenteg Linggih, Padudusan Agung, Tawur Balik Sumpah Utama, lan Segara Kertih, Pura Dang Kahyangan Petitenget yang puncaknya jatuh pada rahina Budha Wage Merakih (11/9). Karya ini dilaksanakan terkait selesainya renovasi sejumlah penataan palemahan, bangunan dan sejumlah palinggih di pura setempat. Demikian dijelaskan Bendesa Desa Adat Kerobokan, AA Putu Sutarja, SH., saat ditemui di sela-sela kesibukannya Rabu (11/9) di pura setempat.

Lebih lanjut dijelaskan, Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Padudusan Agung, Tawur Balik Sumpah Utama, lan Segara Kertih, Pura Dang Kahyangan Petitenget, Desa Adat Kerobokan Kecamatan Kuta Utara, Badung, dimulai sejak rahina Wrespati Paing Medangsia (Kamis 15 Agustus 2019 lalu) melaksanakan upacara Matur Piuning Karya dan runtutannya. Sukra Pon Medangsia (16/8) Nyukat Genah Karya. Redite Kliwon Pujut (18/8) Nanceb Taring, Soma Pon Pahang (26/8) Negtegan Beras, Pengalang Sunari, Pindekan dan Rareangon, Sanggah Pakideh. Wraspati Umanis Pahang (29/8) Nunas Tirtha Empul, Sidakarya dan runtutannya. Sukra Paing, Pahang (30/8) Ngingsah. Soma Kliwon Krulut (2/9) Melaspas Bagia Pulakerti. Anggara Umanis Krulut (3/9) Mendak Pekuluh-pekuluh. Budha Paing Krulut (4/9) Ida Bhatara Prasanak Mapenagkilan. Wraspati Pon Krulut (5/9) Ida Bhatara Mapundut ke Beji dan runtutannya. Saniscara Kliwon Krulut (7/9) Mapepada Tawur. Redite Umanis Merakih (8/9) Taur dan Pedanan. Anggara Pon Merakih (10/9) Mapepada Karya.

Pada rahina Budha Wage Merakih (11/9) adalah Puncak Karya melaksanakan upacara Pesamuan Hidangan ring Jaba Tandeg, dan runtutannya. Wrespati Kliwon Merakih (12/9) dan Sukra Umanis Merakih (13/9) Pamendakan, Prani Penganyar, serta pada rahina Saniscara Paing Merakih (14/9) Nangun Ayu Kebat Daun, Ngebek, dan Ngingkup. Selanjutnya pada rahina Saniscara Paing Krulut (14/9) Nangun Ayu Kebat Daun. Redite Pon Tambir (14/9) dan Soma Wage Tambir (16/9) Pamendakan Prani Penganyar. Anggara Kliwon Tambir (17/9) Ida Bhatara Tedun Mapasaran dan runtutannya, Budha Umanis Tambir (18/9) Pamendakan, Prani, Ngeremek Nyineb. Redite Kliwon Medangkungan (22/9) Nyegara Gunung serta pada rahina Budha Umanis Prangbakat (23/10) dilaksanakan upacara Bulan Pitung Dina (puput).

Karya Ngenteg Linggih yang juga bertepatan pada hari Petirthan (Pujawali) Pura Petitenget ini jatuh pada rahina Budha Wage Merakih yang tahun ini jatuh pada hari Rabu (11/9) 2019. Karya Ngenteg Linggih tersebut dipuput 6 sulinggih yakni di Pedudusan dipuput 3 sulinggih, di Paselang 2 sulinggih, dan Pura Ulun Tanjung dipuput satu sulinggih. Karya serupa pernah dilaksanakan terakhir tahun 1996 silam. Dana renovasi dan sekaligus pelaksanaan karya saat ini semuanya berasal dari dana punia, sumbangan Pemkab Badung, dan khas dari hasil usaha pura. Sementara krama desa sama sekali tidak dipungut iuran. “Penataan palemahan berupa penataan loloan dan sekitarnya, candi bentar, wantilan, pembangunan patung Buto Ijo, serta sejumlah palinggih, keseluruhan diperkirakan menghabiskan dana kurang lebih Rp. 10 miliar. Sementara untuk karya menghabiskan biaya Rp. 6 miliar, semua bersumber dari dana punia, sumbangan Pemkab Badung, dan khas hasil usaha pura berupa parkir, penyewaan kios dagang, dan villa. Sehingga kra tidak dipungut iuran,” ujar Bendesa yang dikenal ramah dan bersahaja ini seraya menambahkan, terakhir khas hasil usaha pura berjumlah kurang lebih Rp. 16 miliar.

Ke depan pihaknya berencana membuat pangeling-eling berupa prasasti untuk pegangan generasi penerus, sehingga upacara semacam ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan berkesinambungan minimal 30 tahun sekali. Hal itu dilakukan untuk ajegnya tradisi, adat, budaya warisan para leluhur yang adiluhung itu. “Semoga upacara ini akan membawa vibrasi kesucian, kedamaian, dan kesejahteraan bagi krama Desa Adat Kerobokan khususnya, termasuk para pengusaha di lingkungan desa Adat Kerobokan, serta seluruh umat manusia yang ada di Jagat Pertiwi Bali ini,” katanya.  *** CahayamasNews.com/Andi.

Facebook Comments