October 20, 2020
Seni dan Budaya

Gairahkan Seni Sastra, Nyonya Putri Koster minta RRI Singaraja Gelar Acara Berbasis Puisi

Buleleng (Cahayamasnews). Dramawan, sastrawan kondang Bali yang kini Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Bali Nyonya Putri Suastini Koster minta kepada RRI Singaraja agar menggelar acara yang bernuansa sastra dengan menampilkan puisi puisi di radio, sekalaigus memberi ruang kepada seniman sastra itu sendiri dalam berkarya. Penegasan istri Gubernur Bali itu, disampaikan saat tampil membacakan puisi andalan bertajuk “Sumpah Kumbakarna” ditengah berlangsungnya Malam Final Kompetisi Bintang Pop Bali dan Apresiasi Budaya Puisi Dharma Selasa malam (25 /2), di Puri Seni Sasana Budaya Singaraja.

Tak sekadar meminta agar RRI Singaraja meramu acara sastra, namun Nyonya Putri Koster yang tampil memukau dikala membacakan puisi dengan menggunakan kebaya warna unggu dan kain songket serta senteng putih kemilau, namun juga memberi apresiasi terhadap penyelenggaraan pemilihan Bintang Pop Bali yang dikolaborasi Apresiasi Budaya Puisi Dharma tersebut. Pemberian apresiasi kepada RRI Singaraja yang dikendalikan srikandi kelahiran Singaraja Ida Ayu Evi Handayani, SH, MH., karena kegiatan tersebut sangat positif dan dinilai mampu  menyalurkan bakat di kalangan remaja Bali Utara, sehingga mereka perlu ruang untuk berkreasi dalam hubungannya dengan seni sastra.

Jika ini tidak disalurkan, demikian ucap Nyonya Putri Suastini Koster maka  bakat dan hobi para remaja itu sendiri akan tersumbat. Disinilah peran penting RRI Singaraja dalam memaknai seni budaya yang adi luhung dan telaah menjadi identitas Bali dalam berkesenian khususnya seni satra. Kekuatan ini pula akan menjadi pondasi kokoh kaum milenial yang berwawasan cerdas dalam menjaga sekaligus melestarikan budaya yang pada ujung-ujungnya mampu menjadi penyangga dalam menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tak kalah dengan Nyonya Putri Suastini Koster, Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik M. Rochanudin malah secara nyata menggambarkan akan hakekat penting dalam memberikan peran strategis bagi RRI untuk menjaga keutuhan NKRI. Semua itu terlukis dari untaian puisi yang berjudul  “Indonesia Adalah Saraswati”.

Di sinilah RRI memiliki tanggung jawab penting sebagai Lembaga Penyiaran Publik untuk memberi pencerahan sekaligus edukasi kepada masyarakat. Dalam puisi karya M. Rochanudin tersebut dalam bait I ada kalimat “Bayangan menuding ke bumi menggaris tegak lurus, menuliskan cinta yang agung, menggambarkan keperkasaan Indonesia”. Sedangkan di bait II ada makna yang patut dipahami oleh anak bangsa yakni kalimat “Tempat anak anak bertanam dan menjaring akar-akar budaya”. Ini berarti betapa RRI harus mampu dan berhasil menjadi lembaga terdepan dalam menguatkan posisi bangsa yang harus melestarikan nilai-nilai budaya.

Para hadirin, baik pejabat pusat seperti anggota Dewan Pengawas LPP RRI Dra Dwi Hernuningsih (didaulat menjadi juri lomba) termasuk Kepala Pusat Pemberitaan Widi Kurniawan serta sejumlah pejabat pusat serta beberapa kepala RRI dari sejumlah satker seperti Kepala RRI Mataram Dra Teguh Yuti Astuti dan  Kepala TVRI Denpasar Ketut Leneng, berdecak kagum ketika menyaksikan tampilnya seorang Direktur Utama LPP RRI untuk sebuah acara bergensi RRI Singaraja.

Walau wakil Bupati dr. Nyoman Sutjidra,S.POG., yang tampil bersama ibu selaku PLT Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Buleleng Nyonya Wardani Sutjidra tidak membaca puisi, namun orang kedua di jajaran Pemkab Buleleng itu menilai event RRI semacam ini sungguh merupakan cemeti bagi generasi muda Buleleng dalam berkreasi dengan tampilan kreatif untuk semua ajang seni.  Oleh karena itulah RRI harus berani memberi kesempatan kepada generasi muda dalam berkarya seni, sehingga talenta mereka terurai untuk kejayaan seni di pulau Dewata Bali. Di ajang ini,  Sutjidra pun tampak semangat untuk menghingarbingarkan acara RRI dengan mau tampil sebagai pengibing tari joged yang ditarikan anak SMKN 3 Singaraja.

Tak kalah pentingnya dengan sastrawan dan penyair muda Buleleng Gede Artawan, yang tampil membawakan karyanya sendiri yakni Kota tanpa puisi. Sungguh menjadi renungan buat kita dalam memaknai hakekat sebuah kehidupan. Dengan tampilnya para seniman sastra tersebut, di ajang malam Final Kompetisi Pemilihan Bintang Pop Bali 2020 RRI Singaraja, diharapkan seni sastra Bali utara kembali Berjaya. Cahayamasnews.com(DEMAL)

Facebook Comments