
“AURA KASIH”
“SARASWATI”
Oleh: I Ketut Murdana, Sabtu : 2 Desember 2023.
BADUNG (CAHAYAMASNEWS.COM). Memuja dan memuliakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa dalam kuasa-Nya sebagai sumber ilmu pengetahuan, yang disimbolkan dalam wujud aksara suci Omkara. Melului saradha bhakti dan Karma Jnana yang tulus ikhlas, anugrah pengetahuan-Nya mengalir meresapi jiwa-jiwa umat manusia, yang senantiasa tekun dan sungguh-sungguh untuk belajar mengatasi segala kebodohannya. Oleh karena anugrah-Nya mengalir (“saras”) dari kasih-Nya, maka sifat Kuasa itu disebut Saraswathi.
Akibat keterbatasan manusia, memahami dan meresapi kemaha luasan pengetahuan itu, hanya melalui “aliran-aliran” pengetahuan itu, dan tertuntun bisa terjangkau serta bisa diresapi perlahan-lahan. Itu artinya dari kuasa tak terbatas meresapi aspek yang terbatas. Inilah wujud kasih abadi-Nya. Sentuhan “pengetahuan” yang amat membahagiakan itu, digambarkan memiliki bagaikan seorang gadis cantik yang menebarkan vibrasi suci dan sundaram yang menyentuh jiwa siapa saja yang bersadhana untuk menggapai berkat-Nya. Bagaikan seorang pemuda yang terkesima oleh vibrasi kecantikan-Nya, mereka akan selalu mengejar hingga bisa mempersuntingnya.
Artinya berjuang untuk memperoleh berkat pembebasan dari kebodohan (awidya) mencapai “penyatuan” dalam kecemerlangan pengetahuan (widya) yang juga disebut “pencerahan”. Upaya mencapai kebenaran pengetahuan, perjuangan panjang umat manusia dari zaman ke zaman. Oleh karena itu, warisan peradaban pengetahuan teks dan artefak sejarah berlimpah di dunia. Semuanya itu sebagai sumber belajar dalam menyadarkan diri, memperjuangkan tujuan hidup yang sesungguhnya.
Memaknai realitas peradaban, walaupun banyak sekali yang ditelan bumi dan dihancurkan para asura, tetapi sekarang penyelamatnya telah hadir melalui instansi-instansi yang bertanggung jawab terhadap persoalan itu. Itu artinya kasih suci Sang Penguasa Waktu, telah membuka tabir-tabir rahasia historik, yang mengagumkan. Menghormati dan melayani kuasa-Nya, berbhakti lewat Karma Yoga adalah penghormatan jasa-jasa para suci leluhur yang telah menancapkan kesungguhan panji-panji suci, meluhurkan peradaban yang bervibrasi mendunia.
Edukasi spirit memahami dan menghormati peradaban merupakan proses memeliakan diri, menginspirasi peradaban baru memuliakan diri dalam jamannya. Menginspirasi pemikiran besar nan suci ini, bisa tumbuh dari dalam diri sendiri, yang hadir dari Anugrah-Nya. Semuanya itu bisa diperjuangkan terus melalui bhakti dan tapa yang sungguh-sungguh membesarkan jiwa.
Tapa merupakan proses belajar mengendalikan hawa napsu mencapai kesucian, agar jiwa terang benerang, siang membangun peradaban suci, merefleksikan pengabdian dengan penuh kesadaran. Di zaman sekarang edukasi spirit seperti itu masih langka peminat, kecuali orang-orang terpanggil jiwa untuk kembali ke jalan dharma. Bahkan penguasa masih banyak yang mengukuhkan jiwa-jiwa asura tanpa disadari, hingga yang dilindungi adalah asura-asura yang berbuih-buih berbicara kebajikan.
Oleh karena itu menguat sikap belajar dan memuja untuk mengubah kebodohan menjadi kecerdasan yang murni memuliakan kasih-Nya adalah jalan yang berpengetahuan. Melalui belajar itulah pengetahuan itu akan mengalir, lalu panca indra, pikiran dan jiwa merasakan aliran pengetahuan yang membahagiakan itu.
Saat ini masih banyak orang mempersepsi negatif terhadap “aliran pengetahuan” itu. Sesuatu yang wajar barangkali aliran pengetahuan itu berbeda dengan situasi sosial dan lingkungannya. Walaupun sesungguhnya merekapun dialiri, barangkali belum menyadari sampai pada esensi kebenaran pengetahuan itu sendiri. Inilah wujud kegelapan lalu menjadi orang-orang tertutup dan munafik, karena takut disaingi kecerdasannya. Karena orang cerdas selalu menang dalam persaingan, walaupun persaingan itu sesungguhnya hanyalah efek dari tujuan inti mencari kebenaran sejati.
Meresapi pengetahuan untuk hidup mencapai pembebasan berorientasi pada: 1. Memuliakan sumber (Tuhan). 2. Guru Penuntun, 3. Proses dan tempat belajar. dan 4. Pengabdian dan pengamalan. Keempat pilar ini menjadi satu kesatuan tak terpisahkan, dalam diri manusia untuk mencapai kebenaran sejati. Sekarang pergeseran pilar-pilar ini semakin semrawut, coba-coba, tanpa arah dan etika penghormatan yang berpengetahuan, etis dan tulus, akibatnya manusia terperosot kejurang neraka yang semrawut juga.
Penghormatan dan memuliakan Tuhan sebagai sumber, penuntun dan pembebasan, berwujud melalui hari Raya Saraswati, disamping kemeriahan ritual nan sundharam, menghormati Sat dan Sad Guru juga sangat penting, agar pengetahuan selalu berenergi suci bagi penggunanya. Agar kekuatan energinya mampu mengukuhkan prinsip-prinsip dharma menjadi perilaku yang benar-benar mendamaikan, hingga dharma selalu menang dalam diri setiap orang. Bukan seperti realitas kini, pengetahuan kebenaran sangat hebat, tetapi tidak bisa melaksanakan kebenaran. Itu arti dharma diredupkan dalam diri oleh kekuatan sifat-sifat asura. *** Semoga menjadi renungan yang cerdas dan arif bijaksana, Rahayu.









Facebook Comments