
Renungan “Brata Semesta (III)”, Tundukkan Ego Duniawi, Serahkan pada Kebesaran Kuasa-Nya
Brata adalah pengendalian diri, dalam upaya menundukkan ego-ego duniawi, lalu sadar menyerahkan diri pada kebesaran kuasa-Nya. Ajaran-demi ajaran yang bernilai edukasi penyadaran, penyelamatan untuk mencapai sejahtera dan damai, seringkali bahkan diabaikan dan dibelokkan demi ambisi-ambisi pribadi yang ditonjolkan. Artinya; ajaran suci yang seharusnya diajarkan untuk mencapai sejahtera dan damai, justru dikukuhkan dan dikuasai panatisme yang merenggangkan jarak humanis di antara sesama ciptaan-Nya.
Perbedaan kualitas dan harkat ciptaan-Nya, tidak mesti dibenci dengan kebencian yang tidak proporsional, lalu menciptakan budaya munafik yang terus-terusan berjarak kebencian. Akibatnya tidak sadar bahwa semua yang tercipta adalah berguna dan saling berhubungan. Ajaran sucilah yang sesungguhnya menyadarkan kebekuan mental egoistis itu. Disinilah ruang edukasi penyadaran dari sifat Asura menjadi Manawa atau dari sifat raksasa menjadi manusia dan berkembang perlahan mencapai watak dewata yang mengayomi.
Bagaimana wujud kesadaran itu?, tentu telah banyak lahir orang-orang arif bijaksana yang selalu mengkondisikan kebajikan perilaku yang mendamaikan diri bervibrasi kepada masyarakat luas. Akibat belum tumbuhnya kesadaran “Brata” ini, menjadikan pengetahuan ditangkap mentah-mentah oleh logika olah pikir dan indrawi, menjadikan pengetahuan suci hanya menjejali otak, tidak meresap dan mampu menjernihkan hati nurani.
Gelora reaksinya menimbulkan aneka “Sikap kritis”, tetapi los etika dan sopan santun. Kecerdasan pengetahuan hanya diarahkan sebagai “Kecerdasan” yang mendekonstrusi realitas, tanpa ikut bersama-sama saling bahu membahu mengatasi keadaan. Lalu sarat membawa penumpang untuk membendung segala perjuangan lawan-lawan politiknya. Itu artinya; politik sebagai kecerdasan politik, tetapi tidak berupaya memperbaiki keadaan. Sekarang persoalan utama dunia adalah kesehatan dan ekonomi yang mesti dibangun penyadaran melalui perubahan cara berpikir instan ke pola perilaku kreatif natural.
Artinya; pengendalian diri secara menyeluruh mesti difokuskan pada persoalan tadi, hingga masyarakat sadar bahwa ada arus perubahan besar yang terjadi untuk mencapai “Sesuatu”, yang patut disikapi secara arif bijaksana, sebagai refleksi kecerdasan spiritual pengendalian diri. Agar ketinggian IPTEKS tidak semata-mata beku pada pengetahuan material duniawi, tetapi sadar sesadar-sadarnya semuanya itu bersumber dari Kasih-Nya. Lalu memposisikan langkah cerdas dan tulus kepada-Nya. Ruang dan arus perubahan pola pikir kedua arah inilah sesungguhnya perilaku “Brata”, agar tercipta keseimbangan yang sehat, sejahtera, dan damai. Semoga menjadi renungan dan refleksi. *** Cahayamasnews.com. Sri Guru Hasta Dhala (Pendiri & Pemilik Ashram Vrata Wijaya, Denpasar).









Facebook Comments