Ketika membuka pintu menghadap ke upuk timur, duduk sambil menikmati segelas teh dengan tetesan lemon, dibarengi ketela rebus. Menyaksikan langit bersih membiru, dipandu awan putih bersih bergerak perlahan entah ke mana, mengisyaratkan aneka wujud, mengajak rasa syahdu memasuki ruang ketenangan
Pendidikan
Ketika kesadaran pikiran, indrawi, rasa, ego, nafsu, merujuk pada perilaku, tunduk pada Kuasa dan hukum kerja-Nya menertibkan dharma kembali di bumi, itulah refleksi brata menjadi perilaku yang berguna. Itu artinya sadar bekerja untuk sesuatu yang besar, karena yang kecil (jiwa-jiwa/atman) tunduk pada yang besar Paramaatma (Mahajiwa). Keterlenaan dan kealpaan ini semakin
Berjuta “peringatan” dalam berbagai bentuk telah dihadirkan oleh Tuhan, tetapi tidak diindahkan oleh sebagian orang-orang nakal di bumi ini. Karena menguasai kecerdasan intelektual dan logika, teknologi canggih dan material, serta masa penganutnya. Segala bentuk tanda-tanda peringatan dimentahkan dengan standar logika tertentu. Bila tidak bisa mengatasi
Nasehat semesta di balik covid 19, patut kita sadari, karena manusia di zaman Kaliyuga ini telah jauh tenggelam dalam kegelapan duniawi. Semua bentuk anugrah kecerdasan, kepintaran untuk mengeruk energi alam bahkan memperkosanya, justru hanya dimaknai untuk menguasai orang lain agar selalu ketergantungan kepadanya. Dengan demikian manusia dijadikan kerbau yang dicocok
PEMPROV BALI (CAHAYAMASNEWS). Keseriusan Gubernur Bali Wayan Koster terhadap sektor pendidikan sebagai pilar pembentuk SDM yang handal tidak hanya sebatas wacana, namun dibuktikan dengan kebijakan bantuan sosial tunai pendidikan untuk siswa dan mahasiswa se-Bali terdampak pandemi Covid-19. Bantuan itu diserahkan langsung Gubernur Koster kepada Rektor Perguruan Tinggi
Merebak geraknya covid 19, telah banyak memakan korban di seluruh dunia. Berbagai cerita, tangisan, kesulitan ekonomi, keresahan multi dimensi, harap cemas tentang berbagai pertanyaan tentang kapan berakhirnya situasi ini. Tentu siapapun tidak mampu menjawabnya dengan pasti, walaupun ada jawaban-jawaban dari berbagai kalangan termasuk para normal, secara psikologis lebih
Kekuatan Covid-19, masih sedang bergerak luas di seluruh dunia, oleh karena itu sudah semestinya pengetatan disiplin sesuai ketentuan perlu ditegakkan (brata). Agar tidak menimbulkan korban yang lebih banyak lagi. Dampak ekonomi global dan kekhawatiran sosial yang diakibatkannya, mesti disadari sebagai suatu realitas yang tidak bisa dihindari oleh siapapun. Mengubah pola
Brata adalah pengendalian diri, dalam upaya menundukkan ego-ego duniawi, lalu sadar menyerahkan diri pada kebesaran kuasa-Nya. Ajaran-demi ajaran yang bernilai edukasi penyadaran, penyelamatan untuk mencapai sejahtera dan damai, seringkali bahkan diabaikan dan dibelokkan demi ambisi-ambisi pribadi yang ditonjolkan. Artinya; ajaran suci yang seharusnya diajarkan untuk
Amat penting dilaksanakan menghadapi “Gering Agung” yang merisaukan, bahkan telah membiasakan diri dalam sedikit ketakutan, dengan berbagai pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh siapapun, kecuali Sang Pencipta melalui waktu-Nya sendiri. Menunggu jawaban ini: Pertama; mesti taat melakasanakan ketentuan duniawi yang diatur pemerintah, dan membebaskan penumpang
Oleh : WAYAN WIRA (LUWUS TABANAN ). *** Cahayamasnews ***. Jalan tanpa keterikatan adalah jalan yang istimewa, namun sangat sulit untuk dilalui. Berbagai rintangan akan dihadapi bagi siapa saja yang ingin menempuh jalan ini. Seperti mendaki sebuah gunung yang tinggi, medannya terjal, di kiri kanan tebingnya curam, walaupun begitu banyak orang yang ingin melakukan












